| • |
salah lab
Fri, 25 Feb 2005 00:00:00 WIB
26th October 2007, 05:45
Mohon pencerahan ttg persyaratan dan biaya balik nama rumah BTN Type 21 ya
Makasih
Yang mau di balik nama apanya Boss..??PBB-nya atau Sertipikatnya…?kondisinya sudah lunas atau masih dalam status kredit?
1. Persyaratan Untuk Balik Nama SPPT PBB (Prosesnya datang ke KPP Pratama/KPPBB :
- Copy SPPT PBB tahun berjalan
- Copy Akte Jual-Beli
- Copy Sertipikat
- Copy KTP & KK
- Copy BPHTB/SSB
- Copy IMB
- Copy Rekening PAM,PLN,Telkom (kalau ada)
- Mengisi SPOP (Surat Pemberitahuan Objek Pajak) dan di tandatangani (formulirnya bisa di download di http://www.pajak.go.id)
Biaya untuk Proses ini GRATIS
2. Persyaratan Balik Nama Sertipikat (Proses datang ke Badan Pertanahan Nasional) :
- Salinan Akte Jual-Beli (lembar keberapanya aku nda’ ngerti..bukan orang
notaris soalnya).
- Bukti Setor BPHTB yang sudah di legalisir oleh KPP Pratama/KPPBB
(legalisirnya ke KPPBB/KPP Pratama, GRATIS)
- Copy SPPT PBB/STTS Tahun berjalan.
- Sertipikat Asli
- Copy KTP
Biayanya ada, Resmi dari BPN..tapi tergantung NJOP dan luas tanahnya berapa, semakin kecil NJOP dan semakin kecil luas tanahnya….maka semakin kecil biayanya..begitu juga sebaliknya.
Biasanya proses balik nama sertipikat langsung diurus langsung oleh notaris, karena kebanyakan notaris memberikan jasa dalam 1 paket, akta jual-beli dan langsung memproses balik nama sertipikat ke BPN.
Saran :
- Untuk biaya2 ke kas negara (PBB, BPHTB, Uang Pemasukan yang ditentukan BPN) sebaiknya dibayarkan sendiri oleh kita(pemilik) ke Bank yang ditunjuk untuk bisa menerima pembayaran. Maksudnya agar kita tau berapa biaya sesungguhnya yang dikeluarkan…dan benar uang yang dibayarkan masuk ke kas negara.
- Jangan menitipkan pembayaran ke pihak lain, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan..ada beberapa kejadian tentang bukti pembayaran pajak yang fiktif karena uang pajaknya tidak di setorkan ke kas negara. dan jangan sampai kita yang jadi korban.
itu dulu deh pencerahannya..kalau ada yang ngga jelas silahkan tanya aja..sorry ya kalo redaksinya ngga bagus2 banget…soale bukan penulis buku sih…
hehehehehe….
ybneb
26th October 2007, 18:23
Waduh, makasih banyak banget atas info-nya. Saya pelajari dulu, klo msh kurang jelas baru posting pertanyaan lg disini.
(d tanya langsung ke calo/petugas hampir pernah dikadalin)
juliansaid
26th October 2007, 19:38
Waduh, makasih banyak banget atas info-nya. Saya pelajari dulu, klo msh kurang jelas baru posting pertanyaan lg disini.
(d tanya langsung ke calo/petugas hampir pernah dikadalin)
Okay, silahkan kirim pertanyaan disini..Insya4JJI akan dibantu…
btw untung ngga jadi di kadallin…gimana rasanya kan…tapi lebih serem dibuayain kali ya…:getok:
-ENG-ManuTD
3rd November 2007, 18:49
Yang mau di balik nama apanya Boss..??PBB-nya atau Sertipikatnya…?kondisinya sudah lunas atau masih dalam status kredit?
1. Persyaratan Untuk Balik Nama SPPT PBB (Prosesnya datang ke KPP Pratama/KPPBB :
- Copy SPPT PBB tahun berjalan
- Copy Akte Jual-Beli
- Copy Sertipikat
- Copy KTP & KK
- Copy BPHTB/SSB
- Copy IMB
- Copy Rekening PAM,PLN,Telkom (kalau ada)
- Mengisi SPOP (Surat Pemberitahuan Objek Pajak) dan di tandatangani (formulirnya bisa di download di http://www.pajak.go.id)
Biaya untuk Proses ini GRATIS
2. Persyaratan Balik Nama Sertipikat (Proses datang ke Badan Pertanahan Nasional) :
- Salinan Akte Jual-Beli (lembar keberapanya aku nda’ ngerti..bukan orang
notaris soalnya).
- Bukti Setor BPHTB yang sudah di legalisir oleh KPP Pratama/KPPBB
(legalisirnya ke KPPBB/KPP Pratama, GRATIS)
- Copy SPPT PBB/STTS Tahun berjalan.
- Sertipikat Asli
- Copy KTP
Biayanya ada, Resmi dari BPN..tapi tergantung NJOP dan luas tanahnya berapa, semakin kecil NJOP dan semakin kecil luas tanahnya….maka semakin kecil biayanya..begitu juga sebaliknya.
Biasanya proses balik nama sertipikat langsung diurus langsung oleh notaris, karena kebanyakan notaris memberikan jasa dalam 1 paket, akta jual-beli dan langsung memproses balik nama sertipikat ke BPN.
Saran :
- Untuk biaya2 ke kas negara (PBB, BPHTB, Uang Pemasukan yang ditentukan BPN) sebaiknya dibayarkan sendiri oleh kita(pemilik) ke Bank yang ditunjuk untuk bisa menerima pembayaran. Maksudnya agar kita tau berapa biaya sesungguhnya yang dikeluarkan…dan benar uang yang dibayarkan masuk ke kas negara.
- Jangan menitipkan pembayaran ke pihak lain, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan..ada beberapa kejadian tentang bukti pembayaran pajak yang fiktif karena uang pajaknya tidak di setorkan ke kas negara. dan jangan sampai kita yang jadi korban.
itu dulu deh pencerahannya..kalau ada yang ngga jelas silahkan tanya aja..sorry ya kalo redaksinya ngga bagus2 banget…soale bukan penulis buku sih…
hehehehehe….
Tergantung juga sih… tapi bedasarkan pengalaman terakhir…
ngurus sendiri ribet nya minta ampun… disuruh bolak balik sampe 4 kali…
petugasnya sedang keluar… petugasnya ijin…. petugasnya sedang ada tamu.. antriannya semerawut..
Mungkin lebih tepatnya TIDAK ADA kata GRATIS sewaktu ngurusin berkas-berkas tersebut…
:speachless::speachless:
juliansaid
4th November 2007, 06:40
ManuTD;103671′]Tergantung juga sih… tapi bedasarkan pengalaman terakhir…
ngurus sendiri ribet nya minta ampun… disuruh bolak balik sampe 4 kali…
petugasnya sedang keluar… petugasnya ijin…. petugasnya sedang ada tamu.. antriannya semerawut..
Mungkin lebih tepatnya TIDAK ADA kata GRATIS sewaktu ngurusin berkas-berkas tersebut…
:speachless::speachless:
…………………………….
juliansaid
4th November 2007, 06:41
ManuTD;103671′]Tergantung juga sih… tapi bedasarkan pengalaman terakhir…
ngurus sendiri ribet nya minta ampun… disuruh bolak balik sampe 4 kali…
petugasnya sedang keluar… petugasnya ijin…. petugasnya sedang ada tamu.. antriannya semerawut..
Mungkin lebih tepatnya TIDAK ADA kata GRATIS sewaktu ngurusin berkas-berkas tersebut…
:speachless::speachless:
mudah2an kedepan tidak terjadi lagi Boss..untuk sekarang pelayanan di KPP Pratama (Hasil modernisasi Ditjen Pajak) semua pelayanan jauh lebih baik dari terdahulu..segala sesuatu di layani pada satu lokal(tempat)/pelayanan satu atap dan semua jenis pelayanan itu GRATIS (BOLEH DICEK).
kalo ngga percaya coba deh…semua jenis pajak sekarang di urus di 1 kantor, bikin NPWP aja bisa ditunggu kok.
tapi inget….antri dulu dan ambil nomor urut pelayanan.Ok?
kalo di instansi lain saya gak tau tuh,,,cuma taunya di kantor Pajak aja…
-ENG-ManuTD
4th November 2007, 13:49
mudah2an kedepan tidak terjadi lagi Boss..untuk sekarang pelayanan di KPP Pratama (Hasil modernisasi Ditjen Pajak) semua pelayanan jauh lebih baik dari terdahulu..segala sesuatu di layani pada satu lokal(tempat)/pelayanan satu atap dan semua jenis pelayanan itu GRATIS (BOLEH DICEK).
kalo ngga percaya coba deh…semua jenis pajak sekarang di urus di 1 kantor, bikin NPWP aja bisa ditunggu kok.
tapi inget….antri dulu dan ambil nomor urut pelayanan.Ok?
kalo di instansi lain saya gak tau tuh,,,cuma taunya di kantor Pajak aja…
Thanks Bro.. informn nya…
Mudah²an kesana lagi udah seperti yang diharapkan…
CooLady
20th January 2008, 17:39
Yang mau di balik nama apanya Boss..??PBB-nya atau Sertipikatnya…?kondisinya sudah lunas atau masih dalam status kredit?
1. Persyaratan Untuk Balik Nama SPPT PBB (Prosesnya datang ke KPP Pratama/KPPBB :
- Copy SPPT PBB tahun berjalan
- Copy Akte Jual-Beli
- Copy Sertipikat
- Copy KTP & KK
- Copy BPHTB/SSB
- Copy IMB
- Copy Rekening PAM,PLN,Telkom (kalau ada)
- Mengisi SPOP (Surat Pemberitahuan Objek Pajak) dan di tandatangani (formulirnya bisa di download di http://www.pajak.go.id)
Biaya untuk Proses ini GRATIS
2. Persyaratan Balik Nama Sertipikat (Proses datang ke Badan Pertanahan Nasional) :
- Salinan Akte Jual-Beli (lembar keberapanya aku nda’ ngerti..bukan orang
notaris soalnya).
- Bukti Setor BPHTB yang sudah di legalisir oleh KPP Pratama/KPPBB
(legalisirnya ke KPPBB/KPP Pratama, GRATIS)
- Copy SPPT PBB/STTS Tahun berjalan.
- Sertipikat Asli
- Copy KTP
Biayanya ada, Resmi dari BPN..tapi tergantung NJOP dan luas tanahnya berapa, semakin kecil NJOP dan semakin kecil luas tanahnya….maka semakin kecil biayanya..begitu juga sebaliknya.
Biasanya proses balik nama sertipikat langsung diurus langsung oleh notaris, karena kebanyakan notaris memberikan jasa dalam 1 paket, akta jual-beli dan langsung memproses balik nama sertipikat ke BPN.
Saran :
- Untuk biaya2 ke kas negara (PBB, BPHTB, Uang Pemasukan yang ditentukan BPN) sebaiknya dibayarkan sendiri oleh kita(pemilik) ke Bank yang ditunjuk untuk bisa menerima pembayaran. Maksudnya agar kita tau berapa biaya sesungguhnya yang dikeluarkan…dan benar uang yang dibayarkan masuk ke kas negara.
- Jangan menitipkan pembayaran ke pihak lain, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan..ada beberapa kejadian tentang bukti pembayaran pajak yang fiktif karena uang pajaknya tidak di setorkan ke kas negara. dan jangan sampai kita yang jadi korban.
itu dulu deh pencerahannya..kalau ada yang ngga jelas silahkan tanya aja..sorry ya kalo redaksinya ngga bagus2 banget…soale bukan penulis buku sih…
hehehehehe….
Hi julian,
Aku beli apartement atas nama ibuku karena kabarnya kalau menikah dengan orang asing ga bisa atas namaku, apa bisa balik nama ke atasnamaku? bagaimana sayarat dan prosesnya juga kira2 brp biayanya, Thank you!
kangkenyot
21st January 2008, 07:38
@juliansaid kumplit tugh… :clap:
abis ambil notariat ato emang notaris….
:cheers:
cc201_106
22nd January 2008, 18:48
tambahan dikit…
untuk balik nama PBB..
tidak ada tunggakan PBB… soalnya repot kalo sudah balik nama tapi ada PBB yang belum lunas..
juliansaid
22nd January 2008, 20:11
Hi julian,
Aku beli apartement atas nama ibuku karena kabarnya kalau menikah dengan orang asing ga bisa atas namaku, apa bisa balik nama ke atasnamaku? bagaimana sayarat dan prosesnya juga kira2 brp biayanya, Thank you!
Hi juga Lady…
Hmmm…udah transaksi dan udah diballik nama ke Ibu ya..???sebenernya atasnama kamu bisa lho PBB/Sertipikat-nya….kalau memang sudah terlanjur jadi nama ibu, untuk peralihan mau ngga mau dibuatkan akte hibah wasiat/hibah aja dari ibu ke kamu (seolah-olah kamu diberi oleh ibu, walaupun sebenarnya kamu memperoleh apartement itu dengan uang kamu),karena transaksi terdahulu adalah antar ibu dan penjual.untuk proses ini kamu membayar BPHTB(Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan), silahkan menghubungi notaris untuk proses ini, untuk pembayaran pajak disarankan kamu membayar sendiri saja ke Bank.
untuk syarat2 dalam balik nama PBB kamu bisa cek di halaman pertama thread ini, sama kok kelengkapan berkas yang harus dipenuhi. untuk biaya…untuk balik nama PBB adalah gratis, kalau BPHTB…saya tidak bisa sebutkan angkanya karena tergantung dari NJOP(Nilai Jual Objek Pajak) dari apartement kamu.
kalau ada yang belum jelas, silahkan di cek private messagenya…oke.
Trims
juliansaid
22nd January 2008, 20:13
tambahan dikit…
untuk balik nama PBB..
tidak ada tunggakan PBB… soalnya repot kalo sudah balik nama tapi ada PBB yang belum lunas..
Yupp…tengkiu Boss…lali…
kalo mau balik nama pbb,harus lunas dari tunggakan pembayaran pbb tahun sebelumnya.trims
juliansaid
22nd January 2008, 20:16
@juliansaid kumplit tugh… :clap:
abis ambil notariat ato emang notaris….
:cheers:
kebetulan kerja di instansi yang menangani pajak bumi dan bangunan.trims:cheers:
cc201_106
22nd January 2008, 22:15
kalo validasi SSB itu apaan sih???
Jarod
26th January 2008, 22:03
Om Expert mau nanya nich…
kalo mau balik nama AJB di kelurahan, biaya apa aja sih yang di keluarkan?
Bisa nggak kita langsung aja ke Kecamatan urusnya, soalnya yg jadi PPAT kan kecamatan bukan kelurahan?
Soalnya kite tanya biaya urus balik nama AJB di kelurahan mahal banget mintanya. Emang sih orang yang dikelurahan yg urus dia bilang seminggu selesai.
contoh : tanah 200 meter NJOPnya 250 rb/meter daerah bekasi
biaya balik namanya jd berapa ya?
Trus tolong dong kasih pencerahan step by step urusnya….
Sorry nich banyaaaak banget nanyanya.
Makasih nich om…..
Salam
juliansaid
30th January 2008, 22:13
kalo validasi SSB itu apaan sih???
Validasi SSB itu (bahasa sehari2 aja nih ya..)
proses pengesahan/kroscek bahwa BPHTB yang dibayarkan oleh pembeli/wajib pajak sudah masuk ke Kas Negara setelah dibayarkan sebelumnya ke bank persepsi yang menerima pembayaran BPHTB dimaksud.
lembar formulir BPHTB itu kan ada beberapa lembar, ada untuk Bank,Notaris,dll..
pihak Bank sebagai penerima pembayaran itu kan memberi laporan ke kantor pajak bahwa tanggal segini, jam segini, hari ini, bulan ini, tahun ini telah diterima pembayaran dari si A,dengan nominal pembayaran sekian rupiah. dalam hal ini besarnya BPHTB….
Oleh kantor pajak, lembaran tersebut di simpan dan dijadikan arsip,sebagai laporan penerimaan BPHTB dalam setahun(sebagai pelaksana pihak dari seksi penerimaan di KPPBB), selain itu sebagai data fisik bilamana dikemudian hari si wajib pajak mau melakukan proses balik nama PBB atau pecah NOP PBB ATAU bila ada masalah dikemudian hari.
salah satu tujuan adanya proses ini adalah untuk mencegah terjadinya penggelapan pajak, karena banyak sekali dilapangan oknum2 yang dengan sengaja membuat bukti pembayaran BPHTB (bahkan SSP)palsu,…stempel bank palsu, validasi bank palsu,tanda tangan teller palsu,dll…hanya formulir saja yang benar/asli.
kalau benar, dengan adanya validasi ini tidak ada pihak yang dirugikan, baik itu negara, bank, dan wajib pajak tentunya.
sekian, kalo ada yang lupa/kurang lengkap boleh di tambahin.
Trims
juliansaid
30th January 2008, 23:28
Om Expert mau nanya nich…
kalo mau balik nama AJB di kelurahan, biaya apa aja sih yang di keluarkan?
Bisa nggak kita langsung aja ke Kecamatan urusnya, soalnya yg jadi PPAT kan kecamatan bukan kelurahan?
Soalnya kite tanya biaya urus balik nama AJB di kelurahan mahal banget mintanya. Emang sih orang yang dikelurahan yg urus dia bilang seminggu selesai.
contoh : tanah 200 meter NJOPnya 250 rb/meter daerah bekasi
biaya balik namanya jd berapa ya?
Trus tolong dong kasih pencerahan step by step urusnya….
Sorry nich banyaaaak banget nanyanya.
Makasih nich om…..
Salam
Gw juga pernah ngalamin dan ngurus transaksi kayak gini, gw pernah beli tanah yang belum sertipikat dan yang tanda tangan camat.
1. Biasanya biaya yang timbul adalah biaya pembuatan akte jual-beli+jasa pengurusan aja..biasanya mereka hitungannya per meter persegi itu XXX Rupiah….nah sekarang tinggal dikalikan aja berapa meter tanah/bangunan-nya..kalau biaya jasa biasanya negotiable banget kok mereka.
2. Biasanya ada juga kelurahan yang minta luas bangunan juga dihitung sebagai biaya, misalnya si Betmen beli tanah 100 meter,dengan bangunan 50 meter, tinggal dikali aja per meter tanah sekian rupiah, sekian meter bangunan sekian rupiah. Karena statusnya adalah tanah yang belum bersertipikat(kalo udah sertipikat mendingan langsung ke notaris),transaksi ini di buat di kecamatan (setiap Camat ditunjuk sebagai PPAT Sementara oleh Kanwil BPN setempat).Sebagai PPAT Sementara Camat tidak bisa langsung tanda tangan akte jual-beli kalau tidak ada rekomendasi/surat keterangan dari kelurahan untuk legalitas status tanahnya. Mereka tetap minta surat keterangan/rekomendasi dari kelurahan, karena kelurahan adalah pihak yang tau seluk beluk tentang status tanah tersebut apakah sengketa/bermasalah atau tidak karena tanah/lokasi tersebut adalah wilayah dibawah pengawasan/wewenang kelurahan.
3. Di urus melalui kelurahan emang mahal, kan double biayanya…untuk orang kelurahan juga(Lurah+Staff)…terus untuk orang kecamatan juga….(PPAT Sementara+Staff).Tapi menurut gw sih mendingan lewat kelurahan aja diurusnya,asalkan biayanya jelas untuk apa aja(lagian kitanya juga ngga repot), kalo kita langsung ngurus ke kecamatan takutnya kita bakal dipersulit sama pihak kelurahan pas minta surat rekomendasi/keterangan kalau tanah tersebut tidak dalam status sengketa(karena surat ini adalah salah satu syarat yang harus dilengkapi untuk akte jual-beli).Antara kelurahan & kecamatan adalah seperti mata rantai yang saling berkaitan…daripada dipersulit karena ngurus sendiri, ya kita nyerah aja deh…dengan ngurus via kelurahan, tips-nya adalah ditawar seminim mungkin biayanya ke pihak kelurahan.
4. Biaya akte via kelurahan ini biasanya diluar pajak lho…Pph Final untuk penjual sebesar 5%, dan BPHTB besarnya 5% untuk pembeli, untuk BPHTB dikurangi terlebih dahulu NPOPTKP-nya (Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak), kalau pas dihitung ternyata hasilnya lebih kecil dari NPOPTKP berarti BPHTB-nya nihil…gitu.begitu juga sebaliknya. Tapi kalo Pph Final penjual biasanya ada nominal yang harus dibayar walaupun cuma Rp.1000,- karena Pph Final tidak ada pengurang pajak. Total NJOP-nya berapa…langsung hitung aja 5%-nya berapa..keluar deh pajak yang harus dibayar berapa.
5. Step by step….langsung dateng ke kelurahan,bilang aja minta tolong mau transaksi..biayanya berapa….trus jangan lupa ditawar..kalo udah sepakat jangan lupa minta kwitansi pembayaran, sebagai pegangan kita kalau ada apa2..(biasanya mereka sih bisa dipercaya kok…asalkan ke staff kelurhan berpakaian dinas bukan Calo) tunggu seminggu(sesuai janji mereka) trus dateng ke kelurahan(biasanya mereka ngehubungi kita kok). setelah jadi….BURU BURU deh dibuat sertipikat ke BPN, bisa lewat notaris/dateng langsung ke BPN. Selama tanah tersebut tidak dibuatkan sertipikat, biaya2/proses2 via kelurahan ini akan terus terjadi/timbul kalau ada transaksi jual-beli dikemudian hari. Kalo udah sertipikat kan enak..langsung ke notaris dan biayanya juga lebih kecil.
6. Selesai
Disclaimer
Semua tulisan diatas(ketentuan pengurusan/prosedur) kecuali ketentuan perpajakan(bersifat baku karena ada UU-nya)adalah sesuai dengan yang gw alami dan tidak mengikat, kalau ternyata ada daerah lain yang mempunyai aturan/prosedur tersendiri dalam hal jual-beli, maka aturan daerah tersebut-lah yang dijadikan pedoman.
babucantik
11th February 2008, 16:57
kasih pencerahan gw juga doonngggg,,,,
rencana gw juga mo balik nama tanah dari ibu gw kira2 luasnya 800m2. itu juga sama kah persyaratannya spt yg diatas??? apakah tuk hal tersebut butuh KK coz gw ampe skrg gak punya KK walopun da merit (gw gak tinggal di indo, laki gw org asing). ttg hal balik nama jg gw masih bleng. klo ngurus sendiri ke agraria kira2 ribet gak sih???? prosedurnya sebenernya gmn ????
juliansaid
11th February 2008, 22:21
kasih pencerahan gw juga doonngggg,,,,
rencana gw juga mo balik nama tanah dari ibu gw kira2 luasnya 800m2. itu juga sama kah persyaratannya spt yg diatas??? apakah tuk hal tersebut butuh KK coz gw ampe skrg gak punya KK walopun da merit (gw gak tinggal di indo, laki gw org asing). ttg hal balik nama jg gw masih bleng. klo ngurus sendiri ke agraria kira2 ribet gak sih???? prosedurnya sebenernya gmn ????
surat tanahnya dalam bentuk sertipikat/girik??
trus perolehannya karena waris/hibah/jual-beli ??(ada lho kejadian transaksi jual-beli antara orang tua dan anak).
semuanya harus ada akte-nya dulu…kalo waris ya akte waris,kalo hibah ya akte hibah..kalo jual-beli ya akte jual-beli….dan semuanya itu dibuat dihadapan notaris.
kalo Kartu Kluarga ngga ada…dulu sebelum merit kan masih gabung sama ortu kan kk-nya??kalo emang iya…pake kk orang tua aja…yang penting nama kita masih tercatat disitu dan belum dicoret.dan jangan lupa KTP-nya kudu masih berlaku ya.
kalo akte udah di buat dihadapan notaris,nanti ada biaya yang harus dibayar..namanya BPHTB(Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan) besarnya 5% dengan terlebih dahulu dikurangi NPOPTKP(Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak).setelah itu besarnya berapa..itulah BPHTB terutang..tapi untuk waris/hibah ada pengurangan lagi selain NPOPTKP tadi..mangkanya tergantung kasus-nya dulu…
silahkan di jabarkan dulu, nanti kalo dah jelas baru gw kasih info detail…ok?
dejask
12th February 2008, 08:22
kalo dari GIRIK ke Sertifikat apa saja syarat nya ?
dan
berapa kira2 biaya2nya ?
babucantik
12th February 2008, 09:44
surat tanahnya dalam bentuk sertipikat/girik??
trus perolehannya karena waris/hibah/jual-beli ??(ada lho kejadian transaksi jual-beli antara orang tua dan anak).
semuanya harus ada akte-nya dulu…kalo waris ya akte waris,kalo hibah ya akte hibah..kalo jual-beli ya akte jual-beli….dan semuanya itu dibuat dihadapan notaris.
kalo Kartu Kluarga ngga ada…dulu sebelum merit kan masih gabung sama ortu kan kk-nya??kalo emang iya…pake kk orang tua aja…yang penting nama kita masih tercatat disitu dan belum dicoret.dan jangan lupa KTP-nya kudu masih berlaku ya.
kalo akte udah di buat dihadapan notaris,nanti ada biaya yang harus dibayar..namanya BPHTB(Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan) besarnya 5% dengan terlebih dahulu dikurangi NPOPTKP(Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak).setelah itu besarnya berapa..itulah BPHTB terutang..tapi untuk waris/hibah ada pengurangan lagi selain NPOPTKP tadi..mangkanya tergantung kasus-nya dulu…
silahkan di jabarkan dulu, nanti kalo dah jelas baru gw kasih info detail…ok?
bentuknya sertifikat
jd critanya gini, dulu waktu gw masih kecil gw dpt tanah dr BUYUT gw, trus di ganti nama sm nyokap coz waktu itu umur gw belom dewasa. kalo asal usul tanahnya sih gw gak tau apakah dulu buyut gw ngasihnya dl dlm bentuk hiba ato warisan ke nyokap. gw KK ada tp di tmp org lain coz gw pindah kota waktu itu bt study kemungkinan blm di coret jg x,
ke notarinya itu ke PPAT yg di kecamatan gt ???? ngurusnya brp lama???
bisa itungin gak kasarnya brp dgn tanah 800m3
soale bln dpn gw pulang kampung
thx banyak yah…..
juliansaid
12th February 2008, 09:58
kalo dari GIRIK ke Sertifikat apa saja syarat nya ?
dan berapa kira2 biaya2nya ?
Syaratnya cuma akte jual-beli yang di tanda tangani camat setempat yang ditunjuk KANWIL BPN stempat sebagai PPAT Sementara. selain itu Copy KTP,surat pernyataan,dll…tapi lebih banyak syarat dimaksud itu udah disiapin sama kecamatan..kita tinggal nambahin dikit yang berhubungan dengan data pribadi kita aja.jangan lupa KTP mesti masih berlaku.
untuk proses pengurusan bisa sampe setahun kalo di Tangerang….lewat notaris kalo luasnya dibawah 500 meter biayanya sekitar 10Juta, itu termasuk sama biaya2 yang akan timbul di BPN,jadi biayanya di paketin gitu sama notaris.tapi kalo diatas 500 meter..lebih gede lagi biayanya…
tapi menurut gw sih,kalo emang kita sempet…ya mendingan diurus sendiri…mungkin ngga segede itu biayanya…apalagi NJOP (kalo di Pamulang) itu kan masih kecil nilai-nya.
juliansaid
12th February 2008, 11:27
bentuknya sertifikat ngurusnya brp lama???
bisa itungin gak kasarnya brp dgn tanah 800m3
coba kontak orang rumah yang tau sikon disana…coba lihat NJOP tahun 2008 ini berapa…ntar gw itungin BPHTB yang harus dibayar berapa.
kalo biaya notaris gw ngga bisa kasih tau,karena tiap notaris beda2 sih…untuk ke BPN juga biayanya bisa dihitung…mangkanya ntar bisa dibandingin biaya yang diminta notaris berapa…kalo kita jalan sendiri berapa…
kalo emang biaya-nya ngga beda jauh ya mendingan kita urus lewat notaris aja, kan kita lebih hemat waktu dan ngga pusing bolak balik…
kalo udah sertipikat,ngga usah ke kecamatan lagi (PPAT Sementara) tapi langsung ke kantor notaris yang deket2 sama lokasi aja…
buaya darat
12th February 2008, 12:50
surat tanahnya dalam bentuk sertipikat/girik??
trus perolehannya karena waris/hibah/jual-beli ??(ada lho kejadian transaksi jual-beli antara orang tua dan anak).
semuanya harus ada akte-nya dulu…kalo waris ya akte waris,kalo hibah ya akte hibah..kalo jual-beli ya akte jual-beli….dan semuanya itu dibuat dihadapan notaris.
kalo Kartu Kluarga ngga ada…dulu sebelum merit kan masih gabung sama ortu kan kk-nya??kalo emang iya…pake kk orang tua aja…yang penting nama kita masih tercatat disitu dan belum dicoret.dan jangan lupa KTP-nya kudu masih berlaku ya.
kalo akte udah di buat dihadapan notaris,nanti ada biaya yang harus dibayar..namanya BPHTB(Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan) besarnya 5% dengan terlebih dahulu dikurangi NPOPTKP(Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak).setelah itu besarnya berapa..itulah BPHTB terutang..tapi untuk waris/hibah ada pengurangan lagi selain NPOPTKP tadi..mangkanya tergantung kasus-nya dulu…
silahkan di jabarkan dulu, nanti kalo dah jelas baru gw kasih info detail…ok?
Boss julian, gw mau nanya juga nih, gw beli tanah, udah ada sertifikatnya, gw beli cuma sebagian aja. beli tahun 2005 tapi nyampe sekarang belum kelar juga sertifikat pemecahannya. apakah prosesnya sama kaya balik nama nggak? nantinya tanah itu jadi 3 pemilik termasuk gw. ajb udah ada tanda tangan camat. o iya, yang ngurus itu sekdes tempat gw beli tanah. setelah ajb terus prosesnya apa aja n persyaratannya apa sama dengan yang di atas nggak? thanks sebelumnya.
juliansaid
12th February 2008, 13:01
gw beli cuma sebagian aja. beli tahun 2005 tapi nyampe sekarang belum kelar juga sertifikat pemecahannya. apakah prosesnya sama kaya balik nama nggak? nantinya tanah itu jadi 3 pemilik termasuk gw. ajb udah ada tanda tangan camat. o iya, yang ngurus itu sekdes tempat gw beli tanah. setelah ajb terus prosesnya apa aja n persyaratannya apa sama dengan yang di atas nggak? thanks sebelumnya.
brarti sampe sekarang PBB-nya masih gabung juga dong ya…??
untuk syarat masih sama kayak yang diatas…silahkan baca dari awal trit aja…
iya nanti kalau udah kelar ya sesuai dengan pemilik tanah masing2 yang dijual…
pertanyaan gw..katanya udah sertipikat, ngapain diurus ke kecamatan…kenapa ngga ke kantor notaris aja…?apa emang ngga ada notaris?masih blm mudeng nih…sebenernya pas beli masih ajb trus mau diurus sertipikat sekalian sama orang kelurahan?kalo yang ngurus sekdes sih mudah2an bisa dipercaya,…tapi kalo sampe 3 tahun ya kudu di kejar terus tuh orang….masa sampe 3 tahun..??
untuk syarat2nya sama….data2 yang diminta sama mereka ya kasih aja..asal jangan duit melulu….:piss:
jabarin lagi ya…:cheers:
buaya darat
12th February 2008, 14:18
brarti sampe sekarang PBB-nya masih gabung juga dong ya…??
untuk syarat masih sama kayak yang diatas…silahkan baca dari awal trit aja…
iya nanti kalau udah kelar ya sesuai dengan pemilik tanah masing2 yang dijual…
pertanyaan gw..katanya udah sertipikat, ngapain diurus ke kecamatan…kenapa ngga ke kantor notaris aja…?apa emang ngga ada notaris?masih blm mudeng nih…sebenernya pas beli masih ajb trus mau diurus sertipikat sekalian sama orang kelurahan?kalo yang ngurus sekdes sih mudah2an bisa dipercaya,…tapi kalo sampe 3 tahun ya kudu di kejar terus tuh orang….masa sampe 3 tahun..??
untuk syarat2nya sama….data2 yang diminta sama mereka ya kasih aja..asal jangan duit melulu….:piss:
jabarin lagi ya…:cheers:
kalo pbbnya sih udah pisah, iya waktu beli dulu juga rencana pake notaris, cuma pak sekdesnya minta agar diurus ama kelurahan biar ada pemasukan buat kas desa, akhirnya kita make jasanya pak sekdes. sertipikat itu luas tanah 1000m2, n kita mau mecah jadi masing2 330m2. gitu boss ceritanya. emang kalo mau mecah sertipikat bisa langsung ke bpn ya? nah masalahnya kita sekarang posisi di sby, sementara lokasi tanah di jepara. jadi agak susah untuk ngejar2 pak sekdesnya. kita udah bolak balik nanya ke pak sekdes jawabannya udah nyampe ke bpn, tp kita tanya tanda terima dari bpn mana, jawabnya belum ada. kita jadi pusing boss. btw, kayaknya kita satu korps ya, cuma kita sama sekali buta ama masalah PBB. thanks bro atas infonya.:cheers:
juliansaid
12th February 2008, 14:55
kalo pbbnya sih udah pisah, iya waktu beli dulu juga rencana pake notaris, cuma pak sekdesnya minta agar diurus ama kelurahan biar ada pemasukan buat kas desa, akhirnya kita make jasanya pak sekdes. sertipikat itu luas tanah 1000m2, n kita mau mecah jadi masing2 330m2. gitu boss ceritanya. emang kalo mau mecah sertipikat bisa langsung ke bpn ya? nah masalahnya kita sekarang posisi di sby, sementara lokasi tanah di jepara. jadi agak susah untuk ngejar2 pak sekdesnya. kita udah bolak balik nanya ke pak sekdes jawabannya udah nyampe ke bpn, tp kita tanya tanda terima dari bpn mana, jawabnya belum ada. kita jadi pusing boss. btw, kayaknya kita satu korps ya, cuma kita sama sekali buta ama masalah PBB. thanks bro atas infonya.:cheers:
satu korps gimana maksudnya..??
wahh kayaknya patut diperhatikan tuh…harusnya kalo udah 3 tahun pasti ada tanda terima dari BPN,…ntah itu tanda terima berkas,surat perintah setor(SPS),dll..banyak dokumen yang harusnya bisa diperoleh…masalahnya ini udah 3tahun lebih..gw sih curiga kayaknya ngga bener,masalahnya sama sekali ngga ada bukti yang menyatakan proses itu benar2 mereka jalani,buktinya pas diminta mereka ngga bisa ngasih…harusnya mereka kan punya dong..wahh kudu di kejar tuh…bahaya lho..apalagi berkas AJB Asli kita sama mereka.
Untuk PBB yang udah dipecah…mungkin dasarnya akte jual-beli aja yang dikasih ke kantor PBB pas ngurus pemecahannya..tapi sempet bayar BPHTB ngga??harusnya bayar….trus punya copy-an sertipikat global-nya apa ngga??
Asalkan udah ada akte jual-beli masing2 bisa aja di urus sendiri,asalkan pemilik yang lain mau ngasih kuasa untuk yang ngurus ke BPN, nih syaratnya…bisa diliat di http://www.bpn.go.id/layanan/266 :
Dasar Hukum:
1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Pokok-Pokok Agraria (UUPA).
2. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
3. Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997.
4. Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2002 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional.
5. Surat Edaran Kepala Badan Pertanahan Nasional No.600-1900 Tanggal 31 Juli 2003.
Persyaratan:
1. Permohonan yang disertai alasan Pemecahan tersebut.
2. Identitas diri pemohon dan atau kuasanya (fotocopy KTP).
3. Sertipikat Hak Atas Tanah asli.
4. Site Plan (Untuk Kawasan Pembangunan Perumahan).
Biaya dan Waktu:
1. Rp. 25.000,- dikalikan banyaknya sertipikat pemecahan yang diterbitkan.
2. Waktu: 7 hari kerja = 1 bidang diluar waktu Pengukuran.
3. 1 (satu) hari kerja = 8 (delapan) jam.
babucantik
3rd April 2008, 14:44
gw da ke indo kemaren, kt adek gw klo mo balik nama tanah gw hrs di balik ke akte dulu, padahalkan itu udah sertifikat. kt org agrarianya begitu??
gw jadi bingung mo balik nama tanah yg sudah sertifikat harus balik ke akte lagi kemudian di sertifikat lagi, tuk proses akte aja 2hr dan 301hr bt proses sertifikatnya.
kt org agraria itu UU pertanahan yg baru…
tlg dong mas julia ksh pencerahan, apa bener UU yg baru seperti itu.
kenapa sih sll di bikin rumit dan itu kedengarannya jd lucu :piss:
Badass77
4th April 2008, 17:50
Julian fiskus nih 
KPP mana bro??
Pasirranji
19th May 2008, 10:07
Biaya PPh ada aturan bakunya ga?, misalkan diatas sekian juta baru ada PPh ?
cc201_106
19th May 2008, 21:04
Biaya PPh ada aturan bakunya ga?, misalkan diatas sekian juta baru ada PPh ?
apakah yang dimaksut PPH pa
By Irma Devita on Sep 27, 2007 in Jual beli, pertanahan
PROSEDUR, DATA YANG DIPERLUKAN dan SYARAT-SYARATNYA
Dalam melaksanakan pekerjaan saya sehari-hari, beberapa kali saya ditanya oleh klien-klien yang awam, yang menyatakan bahwa mereka akan melakukan balik nama sertifikat berdasarkan kwitansi lunas dari Penjual atas pembelian tanah dan/atau bangunan. Beberapa orang menganggap hanya dengan menggunakan kwitansi lunas tersebut mereka sudah dapat melakukan balik nama sertifikat tanah yang mereka beli.
Pada kenyataannya tidak semudah itu. Yang menjadi persoalan adalah jika si penjual sudah tidak bisa ditemui lagi atau sudah meninggal dunia, maka pembeli tersebut akan mengalami kesulitan dalam melakukan peralihan hak atas tanah dan bangunan dimaksud.
Pada prakteknya, untuk dapat melakukan balik nama (dalam hal ini peralihan hak) atas tanah dan/atau bangunan, harus dilakukan dengan cara tertentu, yaitu jual beli, hibah, tukar menukar, atau inbreng (pemasukan ke dalam suatu perusahaan). Pada kesempatan ini akan saya bahas mengenai peralihan hak dengan cara jual beli.
Jual beli merupakan proses peralihan hak yang sudah ada sejak jaman dahulu, dan biasanya diatur dalam hukum Adat, dengan prinsip: Terang dan Tunai. Terang artinya di lakukan di hadapan Pejabat Umum yang berwenang, dan Tunai artinya di bayarkan secara tunai. Jadi, apabila harga belum lunas, maka belum dapat dilakukan proses jual beli dimaksud. Dewasa ini, yang diberi wewenang untuk melaksanakan jual beli adalah Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang terdiri dari:
1.PPAT sementara –> adalah Camat yang diangkat sebagai PPAT untuk daerah –daerah terpencil
2.PPAT –> Notaris yang diangkat berdasarkan SK Kepala BPN untuk wilayah kerja tertentu
Data-data apa saja yang harus dilengkapi untuk proses Jual Beli & balik nama tersebut?
Dalam transaksi jual beli tanah dan/atau bangunan tersebut, biasanya PPAT yang bersangkutan akan meminta data-data standar, yang meliputi:
I. Data tanah, meliputi:
a.asli PBB 5 tahun terakhir berikut Surat Tanda Terima Setoran
(bukti bayarnya)
b.Asli sertifikat tanah (untuk pengecekan dan balik nama)
c.asli IMB (bila ada, dan untuk diserahkan pada Pembeli setelah
selesai proses AJB)
d.bukti pembayaran rekening listrik, telpon, air (bila ada)
e. Jika masih dibebani Hak Tanggungan (Hipotik), harus ada Surat
Roya dari Bank yang bersangkutan
Catatan: point a & b mutlak harus ada, tapi yang selanjutnya optional
II. Data Penjual & Pembeli (masing-masing) dengan kriteria
sebagai berikut:
a.Perorangan:
a.1. Copy KTP suami isteri
a.2. Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah
a.3. Copy Keterangan WNI atau ganti nama (bila ada, untuk
WNI keturunan)
b.Perusahaan:
b.1. Copy KTP Direksi & komisaris yang mewakili
b.2. Copy Anggaran dasar lengkap berikut pengesahannya dari
Menteri kehakiman dan HAM RI
b.3. Rapat Umum Pemegang Saham PT untuk menjual atau Surat
Pernyataan Sebagian kecil asset
c.Dalam hal Suami/isteri atau kedua-duanya yang namanya
tercantum dalam sertifikat sudah meninggal dunia, maka yang
melakukan jual beli tersebut adalah Ahli Warisnya. Jadi, data-
data yang diperlukan adalah:
c.1. Surat Keterangan Waris
-Untuk pribumi: Surat Keterangan waris yang disaksikan dan
dibenarkan oleh Lurah yang dikuatkan oleh Camat
-Untuk WNI keturunan: Surat keterangan Waris dari Notaris
c.2. Copy KTP seluruh ahli waris
c.3. Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah
c.4. Seluruh ahli waris harus hadir untuk tanda-tangan AJB, atau
Surat Persetujuan dan kuasa dari seluruh ahli waris kepada
salah seorang di antara mereka yang dilegalisir oleh Notaris
(dalam hal tidak bisa hadir)
c.5. bukti pembayaran BPHTB Waris (Pajak Ahli Waris), dimana
besarnya adalah 50% dari BPHTB jual beli setelah dikurangi
dengan Nilai tidak kena pajaknya.
Nilai tidak kena pajaknya tergantung dari lokasi tanah yang
bersangkutan.
Contoh Perhitungannya:
-NJOP Tanah sebesar Rp. 300juta, berlokasi di wilayah bekasi:
Nilai tidak kena pajaknya wilayah bekasi adalah sebesar Rp. 250jt. Jadi pajak yang harus di bayar =
{(Rp. 300jt – Rp. 250jt) X 5%} X 50%.
Jadi, apabila NJOP tanah tersebut di bawah Rp. 250jt, maka penerima waris tidak dikenakan BPHTB Waris (Pajak Waris)
Sebelum dilaksanakan jual beli, harus dilakukan:
1. Pengecekan keaslian dan keabsahan sertifikat tanah pada kantor
pertanahan yang berwenang
2. Para pihak harus melunasi pajak jual beli atas tanah dan
bangunan tersebut.
Dimana penghitungan pajaknya adalah sebagai berikut:
-Pajak Penjual (Pph) = NJOP/harga jual X 5 %
-Pajak Pembeli (BPHTB) =
{NJOP/harga jual – nilai tidak kena pajak} X 5%
By Irma Devita on Oct 13, 2007 in CV/Firma/Persekutuan Perdata
CV atau Comanditaire Venootschap adalah bentuk usaha yang merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih oleh para pengusaha yang ingin melakukan kegiatan usaha dengan modal yang terbatas. Karena, berbeda dengan PT yang mensyaratkan minimal modal dasar sebesar Rp. 50jt dan harus di setor ke kas Perseroan minimal 25%nya, untuk CV tidak ditentukan jumlah modal minimal. Jadi, misalnya seorang pengusaha ingin berusaha di industri rumah tangga, percetakan, biro jasa, perdagangan, catering, dll dengan modal awal yang tidak terlalu besar, dapat memilih CV sebagai alternatif Badan Usaha yang memadai.Apakah bedanya CV dengan PT?
Perbedaan yang mendasar antara PT dan CV adalah, PT merupakan Badan Hukum, yang dipersamakan kedudukannya dengan orang dan mempunyai kekayaan yang terpisah dengan kekayaan para pendirinya. Jadi, PT dapat bertindak keluar baik di dalam maupun di muka pengadilan sebagaimana halnya dengan orang, serta dapat memiliki harta kekayaan sendiri. Sedangkan CV, dia merupakan Badan Usaha yang tidak berbadan hukum, dan kekayaan para pendirinya tidak terpisahkan dari kekayaan CV.
Karakteristik CV yang tidak dimiliki Badan Usaha lainnya adalah: CV didirikan minimal oleh dua orang, dimana salah satunya akan bertindak selaku Persero Aktif (persero pengurus) yang nantinya akan bergelar Direktur, sedangkan yang lain akan bertindak selaku Persero Komanditer (Persero diam). Seorang persero aktif akan bertindak melakukan segala tindakan pengurusan atas Perseroan; dengan demikian, dalam hal terjadi kerugian maka Persero Aktif akan bertanggung jawab secara penuh dengan seluruh harta pribadinya untuk mengganti kerugian yang dituntut oleh pihak ketiga. Sedangkan untuk Persero Komanditer, karena dia hanya bertindak selaku sleeping partner, maka dia hanya bertanggung jawab sebesar modal yang disetorkannya ke dalam perseroan.
Perbedaan lain yang cukup penting antara PT dengan CV adalah, dalam melakukan penyetoran modal pendirian CV, di dalam anggaran dasar tidak disebutkan pembagiannya seperti halnya PT. Jadi, para persero harus membuat kesepakatan tersendiri mengenai hal tersebut, atau membuat catatan yang terpisah. Semua itu karena memang tidak ada pemisahan kekayaan antara CV dengan kekayaan para perseronya.
BAGAIMANA CARA MENDIRIKAN CV?
CV dapat didirikan dengan syarat dan prosedur yang lebih mudah daripada PT, yaitu hanya mensyaratkan pendirian oleh 2 orang, dengan menggunakan akta Notaris yang berbahasa Indonesia. Walaupun dewasa ini pendirian CV mengharuskan adanya akta notaris, namun dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dinyatakan bahwa pendirian CV tidak mutlak harus dengan akta Notaris.
Pada saat para pihak sudah sepakat untuk mendirikan CV, maka dapat datang ke kantor Notaris dengan membawa KTP. Untuk pendirian CV, tidak diperukan adanya pengecekan nama CV terlebih dahulu. Oleh karena itu proses nya akan lebih cepat dan mudah dibandingkan dengan pendirian PT.
Namun demikian, dengan tidak didahuluinya dengan pengecekan nama CV, menyebabkan nama CV sering sama antara satu dengan yang lainnya.
Pada waktu pendirian CV, yang harus dipersiapkan sebelum datang ke Notaris adalah adanya persiapan mengenai:
1. Calon nama yang akan digunakan oleh CV tersebut
2. tempat kedudukan dari CV
3. Siapa yang akan bertindak selaku Persero aktif, dan siapa yang akan bertindak selaku persero diam.
4. Maksud dan tujuan yang spesifik dari CV tersebut (walaupun tentu saja dapat mencantumkan maksud dan tujuan yang seluas-luasnya).
Untuk menyatakan telah berdirinya suatu CV, sebenarnya cukup hanya dengan akta Notaris tersebut, namun untuk memperkokoh posisi CV tersebut, sebaiknya CV tersebut di daftarkan pada Pengadilan Negeri setempat dengan membawa kelengkapan berupa Surat Keterangan Domisili Perusahaan (SKDP) dan NPWP atas nama CV yang bersangkutan.
Apakah itu akta, SKDP, NPWP dan pendaftaran pengadilan saja sudah cukup?
Sebenarnya semua itu tergantung pada kebutuhannya. Dalam menjalankan suatu usaha yang tidak memerlukan tender pada instansi pemerintahan, dan hanya digunakan sebagai wadah berusaha, maka dengan surat-surat tersebut saja sudah cukup untuk pendirian suatu CV. Namun, apabila menginginkan ijin yang lebih lengkap dan akan digunakan untuk keperluan tender, biasanya dilengkapi dengan surat-surat lainnya yaitu:
1. Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)
2. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP)
3. Tanda Daftar Perseroan (khusus CV)
4. Keanggotaan pada KADIN Jakarta.
Pengurusan ijin-ijin tersebut dapat dilakukan bersamaan sebagai satu rangkaian dengan pendirian CV dimaksud, dengan melampirkan berkas tambahan berupa:
1. Copy kartu keluarga Persero Pengurus (Direktur) CV
2. Copy NPWP Persero Pengurus (Direktur) CV
3. Copy bukti pemilikan atau penggunaan tempat usaha, dimana
a. apabila milik sendiri, harus dibuktikan dengan copy sertifikat dan copy bukti
pelunasan PBB th terakhir
b. apabila sewa kepada orang lain, maka harus dibuktikan dengan adanya
perjanjian sewa menyewa, yang dilengkapi dengan pembayaran pajak sewa
(Pph) oleh pemilik tempat.
sebagai catatan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta, untuk wilayah Jakarta, yang
dapat digunakan sebagai tempat usaha hanyalah Rumah toko, pasar atau perkantoran.
Namun ada daerah-daerah tertentu yang dapat digunakan sebagai tempat usaha yang
tidak membayakan lingkungan, asalkan mendapat persetujuan dari RT/RW setempat
4. Pas photo ukuran 3X4 sebanyak 4 lembar dengan latar belakang warna merah
Jangka waktu pengurusan semua ijin-ijin tersebut dari pendirian sampai dengan selesai lebih kurang selama 2 bulan.
Sebagai penutup, saya sarankan agar dalam mendirikan suatu bidang usaha, alangkah baiknya untuk dipertimbangkan dari segala segi, tidak hanya dari segi kepraktisannya, namun juga dari segi pembagian resiko di antara para persero, agar tidak terjadi pertentangan di kemudian hari. |